Rabu, 27 April 2016

FLASH FICTION - MAPLE STREET 31

Nyanyian bernada ceria menyambut Heidi saat ia melewati pintu besar. Sebuah kotak hitam diselubungi tirai berwarna senada di bagian depannya, membuka perlahan. Sejumlah boneka kayu terikat di seutas tali, bergelantungan, bernyanyi dengan suara ceria di dalamnya. Heidi terpukau. Bibirnya berkomat-kamit mengikuti lagu yang tengah dimainkan.
 
Tapi ... apa itu?!
 
Heidi mendekat. Boneka di pojok kotak hitam itu berbeda. Ia terperanjat ketika benda kecil itu tiba-tiba mengangkat wajahnya.
***
 
Rumah di atas bukit cemara, bercat warna-warni dengan hiasan permen lolipop besar memenuhi permukaan dindingnya, selalu menarik perhatian Heidi. Seperti hari ini, ia berdiri di seberang jalan Maple, menatap rumah besar bernomor 31 tersebut dengan sepasang mata biru besar penuh hasrat.
Seperti apa di dalamnya? Batinnya.
 
"Madam Turquoise akan menyihir anak nakal yang ke sana, dan kau takkan pernah kembali." Suara Isabel, sahabatnya, kembali terngiang-ngiang.
"Tapi aku bukan anak nakal, takkan terjadi apapun padaku," gumam Heidi dan mantap melangkahkan kaki mungilnya menaiki bukit.
Kelinci-kelinci berwarna biru dan oranye menyambut kedatangannya. Beberapa berlarian di sela-sela kaki hingga suatu ketika membuatnya jatuh tertelungkup.
"Hei ...!" teriaknya marah, tapi seketika ia tersentak. Kelinci tadi berdiri sangat dekat dari cuping hidungnya. Muka binatang lucu itu berbercak-bercak merah dan giginya berkawat. Mata kecilnya tampak ketakutan.
Mengapa kelinci itu berwajah seperti Greg Corner?
Heidi ingat, anak nakal itu menumpahkan bekal makan siangnya minggu lalu, dan beberapa hari ini ia tak melihatnya di sekolah.
"Hei ... tunggu!" Heidi segera bangkit, mengejar kelinci tadi yang melesat cepat menuju puncak.
Saat Heidi tiba di atas, kelinci itu sudah menghilang. Samar, telinganya menangkap nyanyian mengalun dari dalam rumah. Penasaran, ia mendorong pintunya perlahan sambil menahan napas.
Kotak besar berwarna hitam menyambut Heidi. Tirai hitam di bagian depannya membuka perlahan. Beberapa boneka kayu bergelantungan, bernyanyi ceria dengan mimik wajah kaku.
Heidi ikut bernyanyi, tapi ekor matanya terpaku pada boneka di sudut kanan.
Yang itu bukan dari kayu, dan sepertinya ia menangis. Pikirnya.
"Hei, kau kenapa?!" teriak Heidi seraya mendekat. Suara nyanyian seketika senyap. Boneka itu tiba-tiba mengangkat wajahnya. Mata biru besarnya memerah penuh air mata.
"Kau nakal, masuk rumah orang tanpa izin!"
Heidi terperanjat. Boneka itu ... aku?


Rie||2015


Kamis, 31 Maret 2016

DI AMBANG BATAS

"Kath, ingat, les pianomu satu jam lagi. Jangan berpura-pura sakit perut seperti minggu lalu!"

Ibumu berkata ketus di depan pintu kamar. Bibir terpulas warna darah itu membentuk sudut tajam. Matanya menatapmu setajam belati.

"Iya, Ma." Kau bergumam mengiyakan, tak berani menatap mata ibumu walau sekadar meyakinkan, bahwa kau sungguhan sakit saat itu.

Dengan gerak lambat kau turun ke ruang bawah. Dari balkon kamar, suara kaku jari-jarimu menekan tuts piano samar terdengar. Kau sama sekali tak berbakat.

***

"Kath! Waktunya les renang! Pelatih barumu sudah menunggu di kolam! Ini sudah hampir jam 5 pagi. Jangan telat!"

Ibumu menggedor pintu kamar berkali-kali. Dari pintu ke arah balkon yang kau biarkan terbuka, aku melihatmu kian membenamkan tubuh ke dalam selimut hangat.

Dari tempatku berada, kulihat laki-laki itu berdiri di tepi kolam sambil sesekali melirik jam tangannya. Rahangnya kukuh. Dia mengangkat wajahnya tinggi-tinggi saat mengamati sekitar kolam. Raut wajahnya kaku tanpa secuil pun senyum. Sepertinya ia akan sangat keras melatihmu.

***

"Bagaimana hasil ulanganmu bisa hancur semua seperti ini! Mama sudah keluar uang banyak untuk memasukkan kamu ke bimbel bergengsi itu! Belajar apa saja kamu di sana, hah?!" Lagi-lagi hari ini ibumu meledakkan suara.

"Kathrin sudah berusaha, Ma." Kau menjawab lemah sambil menyusut air matamu yang bergulir di pipi.

"Usahamu kurang keras! Seorang keturunan Martodipuro harus mendapatkan nilai sempurna! Nilai delapan dan sembilan ini tidak ada artinya sama sekali!" Ibumu berteriak histeris sebelum membanting pintu dan meninggalkanmu sendirian.

Suara dentuman daun pintu menggetarkan kaca-kaca jendela. Gemanya pun memantul di sekujur tubuhku. Kau menggelegak dalam tangis selepas ibumu pergi. Terhuyung kau menghampiriku, meremas tubuhku kuat-kuat seolah ingin membagi kesedihan dan kemarahanmu sekaligus. Lelah menangis, kau pun bersandar padaku. Membiarkan angin kemarau menghapus habis air matamu.

***

"Kath! Mulai senin depan kau sekolah di rumah, nilai-nilaimu harus dikatrol naik. Mama sudah buat jadwal, jadi tidak alasan lupa, ketiduran, dan lain sebagainya! Tempel ini di tempat kau bisa melihatnya dengan baik!"

Ibumu meninggalkan selembar kertas di atas meja. Ia pergi secepat ia datang. Kau tak menyentuh kertas itu sama sekali, hanya terus menarikan pena dalam genggamanmu. Kertas di meja belajar melayang tertiup angin, jatuh di dekat kakiku. Aku membacanya ....

Senin
05.00 wib-07.00 wib: Les renang
07.15 wib-07.45 wib: Mandi & sarapan
08.00 wib-12.00wib: Home schooling
12.15 wib-12.45 wib: Makan siang
13.00 wib-15.00 wib: Les biola
15.15 wib-17.45 wib: Gym

Oh Tuhan, aku tak sanggup meneruskan. Itu baru hari senin. Sekilas tadi kulihat les-les apa saja yang harus kau ikuti: Matematika, Bahasa Inggris, balet, les kepribadian, Bahasa Perancis, Kimia, dan masih banyak lagi. Monster macam apa ibumu membebani otakmu dengan begitu banyak kegiatan, bahkan usiamu baru 15 tahun! Dan tak ada satu pun jadwal bersenang-senang dengan teman-temanmu? Oh, aku lupa. Kau tak punya teman.

***

"Kath, Mama harus berangkat ke Singapura mengantarkan Papa medical check up. Jangan bolos les vokal pagi ini, Mama akan terus memantaumu!"

Ibumu berkata padamu saat sarapan di meja makan tepi kolam. Ia hendak pergi, tapi masih meninggalkan taring dan matanya di rumah. Bahkan hari minggu pun harus kau habiskan dengan kegiatan yang tak kau sukai.

***

"Satu lap lagi, Kath!"

Pelatihmu berteriak dari pinggir kolam, tangannya menggenggam stop watch.

"Arrghh ... 10 menit 7 detik! Masih terlalu lama, Kath! Saya akan mengusulkan untuk menambah jadwal latihanmu!"

Kau menampar permukaan air dengan muak saat mendengar kata-kata pelatihmu. Kau keluar dari kolam, meraih jubah mandimu, dan pergi meninggalkan orang itu dengan tatapan marah.

Pelatih itu tersenyum sinis di balik punggungmu.

***

"Apa ini?! Cerita picisan! Kamu tidak akan bisa kaya dengan menulis!"

Ibumu melempar helai-helai kertas yang kau coba tunjukkan padanya. Kisah petualangan penuh misteri terbungkus ketegangan. Aku tahu karena kau pernah membacanya keras-keras di teras balkon.

"Ini dunia yang Kath cintai, Ma. Kath mohon Mama mengerti." Kau mengiba, memeluk, dan mencium kaki ibumu.

"Jangan pernah berharap! Kelak kau akan meneruskan bisnis papamu. Dan itu lebih menyejahterakan dibanding kau jadi penulis!" Kata-kata mamamu tajam bagai pedang. Kulihat matamu menyayatkan luka.

"Lalu kenapa Ma, Kath harus les renang, biola, vokal, piano? Toh, itu juga nggak akan ada gunanya di dalam bisnis papa?!"

Plaakk!

"Dasar anak tak tahu diri! Seorang Martodipuro juga harus mempunyai fisik kuat, mental baja, otak cerdas, dan pengetahuan seni yang tinggi! Keluarga kita keluarga terhormat, jangan sampai hal sepele membuat kita direndahkan orang lain! Semua yang Mama lakukan sekarang untuk kamu akan berguna pada waktunya!"

Ibumu membanting pintu di belakangnya setelah memberondongmu dengan kata-kata pahit. Dengan gemetar kau kumpulkan helai demi helai kertas yang bertebaran, mendekapnya erat di dada sambil terus terisak-isak.

***

Jam dua dini hari ....

Kau membuka pintu ke arah balkon. Sisa tangis masih membekas di wajah dan matamu yang sembab. Perlahan kau menghampiriku, sehelai kain membuhul lehermu. Jari-jemarimu gemetar saat kau ikatkan ujung kain yang lain di celah-celah tubuhku. Kau berdiri pada bibir balkon, berpegangan padaku sebelum akhirnya kau lepaskan genggaman dan melompat ke bawah.

***

Mentari pucat, embun bergerombol di dedaunan, siulan burung-burung di atas atap. Pagi yang damai. Namun mendadak kelengangan pagi ini terkoyak oleh lengking suara.

"Astagfirullaaaahh! Nyonyaaa ... Tuaaann!"

"Ada apa sih, Bi, teriak-teriak?!"

"It-ituu, Nya."

"Ya Tuhan, Kathriiinnn!"

~end~

Sumber gambar: Mbah Gugel

Selasa, 29 Maret 2016

FLASH FICTION - SEKUNTUM KAMBOJA DARI HONGKONG

Nduk, panasnya Anjas ndak mau turun. Ibu bawa dia ke rumah sakit, takut ada apa-apa.

Pesan singkat dua hari lalu itu membuyarkan konsentrasi bekerja. Aku mengutuk kecerobohanku lupa mengisi pulsa, hal yang sangat krusial bagi TKI sepertiku yang hanya bisa keluar flat saat libur, hingga harus menunggu lepai singgei [1] untuk mengetahui perkembangan Anjas.

"Ngo cut kai sin." [2] Pamitku pada majikan, lalu bergegas menuju lift dari flatku di sap kau lau, ]3] menekan tombol ground, tempat stasiun kereta listrik, Ferry Pier berada.

"Jadi kita ke Sham Shui Po?"

Kalimat pertama May, temanku, yang sudah menunggu di peron stasiun.

"Kamu sama Yanti aja ya, May. Anakku sakit, mau nelpon ke kampung. Repot juga nggak ada Aryati."

"Aku yo repot Aryati mbali Indo, wis ra nduwe konco sing dodol pulsa elektrik. [4] Kalo pulsaku abis terus kangenku kambuh sama Mas Gatot, duuh ...."

Aku meringis mendengar kata-katanya. Kami lalu saling melambai saat hendit, kereta listrik datang.

Aku menyeberang ke arah pertokoan di sepanjang Ferry Pier, membeli pulsa di salah satu tinwa bodhao, [5] lalu menekan nomor tujuan yang sudah kuhapal di luar kepala.

"Assalamualaikum. Ibu? Gimana Anjas? Masih dirawat? Maafin Ratih baru bisa nelpon, Bu."

"Ratih ...," Suara di seberang menjawab, bukan suara ibu, "ini Bulik Lani. Sing sabar yo, Nduk." [6]

Suara Bulikku bergetar, lirih, lalu terdengar isak tertahan. Apakah ....

"Anjas kenapa, Bulik?! Sakitnya parahkah?!"

"Meninggal ...."

"Ya Allah, Anjaaassss!"

"Bukan Anjas, Tih. Ibumu ... ibumu yang meninggal. Ditabrak bis waktu menyeberang jalan, sepulang dari menjaga Anjas di rumah sakit."

Tubuhku melunglai. Aku jatuh terduduk. Telepon genggam terlepas entah kemana. Ibu, wanita tegar penuh kasih yang aku cintai. Untuknya dan Anjas, aku menyeberangi lautan agar dapat memberi penghidupan yang lebih baik, sebagai wujud baktiku padanya. Tapi hari ini, aku hanya bisa memberinya sekuntum kamboja dari Hongkong ....



Catatan kaki:

[1] Hari Minggu

[2] Saya pergi keluar dulu

[3] Lantai 19

[4] Aku juga repot Aryati pulang ke Indonesia, tidak punya teman lagi yang jual pulsa elektrik

[5] Toko penjual pulsa, kartu telepon, dll

[6] Yang sabar ya, Nak

Minggu, 20 Maret 2016

FLASH FICTION - LANGIT TANPA FAJAR

"Akang kredit datang lagi, Pak. Minggu lalu kita sudah nggak bayar cicilan hape, tadi juga begitu, malu aku disemprot di depan orang banyak. Audy sama Panca juga sudah lima bulan ini nunggak SPP, kapan mau dilunasi?"

"Sabarlah, Bu, nanti Bapak cari-cari pinjaman."

"Kamu ya kok, masih nganggur aja sih, Pak? Kalau aku nggak nyambi jadi tukang cuci, sudah makan batu anak-anak kita!"

Aku menarik napas panjang, mencoba menghilangkan sesak yang mendiami liang dada. Kutinggalkan istriku yang masih mengayun si kecil.

"Mbak Anna tadi nelpon, nanti sore mau ke sini. Dia menunggu jawabanmu."

Kuseret langkah menuju teras, sungguh aku tak ingin mendengar apa pun lagi dari istriku, tidak juga tentang Anna.

Aku tidak siap!

Semoga hujan deras ini tak berubah menjadi gerimis, atau pun mereda, agar wanita itu tak perlu datang. Doaku dalam hati.

"Lempar bolanya ke Mas Abi, Im!"

"Ke Mbak aja, Im, nanti Mbak beliin es krim!"

Teriakan gegap ketiga anakku di bawah guyuran hujan, sedikit menghibur hati. Miris rasanya saat melihat Baim lebih memilih mengoper bola ke Wida, anakku nomor empat, karena iming-iming jajanan yang jarang bisa ia nikmati. Mendadak renyut di kepalaku semakin menjadi. Suasana nyenyat yang kubutuhkan saat ini, menuntun langkahku menuju kamar.

"Audy, ini buat bayar SPP kamu sama Panca."

"Bu, cantik nggak aku pakai ini?"

"Jadi kan, Bu, beliin Baim sepeda?"

Aku terbangun di keremangan saat mendengar suara gaduh anak-anak. Terhuyung-huyung aku melangkah ke luar kamar, dengan kepala yang masih berat. Pandanganku langsung tertumbuk pada setumpuk bingkisan yang sebagian sudah terbuka.

"Dari siapa itu, Bu?" tunjukku pada pakaian yang melekat di tubuh dua anakku dan uang di genggaman Audy.

"Mbak Anna tadi datang, kamu masih tidur, jadi aku yang buat keputusan."

"Fajar?!"

Seperti orang kerasukan aku berlari ke tempat buaiannya berada. Kosong! Aku berlari lagi ke ruang depan, mendapati istriku menghitung segepok uang.

"Anak kita banyak, Pak, kau sendiri tidak sanggup membiayai. Uang dari Mbak Anna ini, bisa mencukupi kehidupan kita."

"Apa?!"

"Lagi pula kasihan dia, sudah sepuluh tahun menikah belum juga dikaruniai anak."

Mendadak dunia kurasakan berputar lebih cepat, aku pun lenyap ke dalam pusaran gelap tak berujung.

Kamis, 03 Maret 2016

BUKU DUET: NYOOK KITE NGUMPUL!

Judul Buku: Nyook Kite Ngumpul!
Penulis: Rosi Ochiemuh & SH Kusuma
Jumlah Halaman: 239 hal
Dimensi: 14x21 cm
Penyunting: Ichi Kudo
Tata Letak: Ichi Kudo
Desain Sampul: Ichi Kudo
Penerbit: LovRinz Publishing
Harga: Rp 49.000,- (belum ongkir)

Kumpulan cerita NYOOK KITE NGUMPUL! mengajak kalian semua menikmati keseruan kisah-kisah di dalamnya.
Pantengin kisah Aladin bersama Bimbim dan Ucok, yang mencoba menguak isu Kolor Ijo di Kampung Duren dalam GENTAYANGAN, jangan lewatkan pula kisah mereka saat melawan sejumlah preman di SEMAKIN MAJU KE DEPAN, lalu bagaimana Aladin dan Ucok bisa berurusan dengan para pemakai narkoba? Simak ceritanya di KEHILANGAN SOFI, dan keseruan cerita lainnya.

Jangan lupa baca juga kisah Mail dan Zuki saat memburu cewek blasteran yang doyan ngedip-ngedipin mata dalam TARUHAN, lalu simak trik jitu mereka berdua saat menyelamatkan diri dari RAZIA RAMBUT, serta nikmati kesialan Mail saat mau memberi SUAPAN CINTA ke cewek gebetannya, dan masih banyak lagiii ...!

Lebih dari 50 cerita gokil dalam satu buku ini layak menjadi bacaan favorit kalian. Cocok buat para Ibu Rumah Tangga sebagai obat penghilang jenuh selain nonton drama Turki, pas buat mahasiswa yang pengen nostalgia masa remaja, dan pastinya orang kantoran yang lagi ada deadline kerjaan, dijamin pusingnya ilang baca buku ini.

Satu lagi, untuk para Jomblowers, dijamin nggak akan ngerasa kesepian lagi dan bakal terhibur abis baca bukunya. So, buruan serbuuu ...! Jangan sampai kehabisan :-D

* Untuk pemesanan bisa melalui blog ini atau inbox ke FB Rie Kusuma, Rosi Ochiemuh, dan Penerbit LovRinz.

Senin, 15 Februari 2016

FLASH FICTION - GADIS TEROWONGAN

Tiiinn ...!

Begitu kuklakson mobil, gadis kecil itu berlari membuka gerbang masuk terowongan yang menjadi pembatas antara dua desa. Sesudahnya ia menghampiriku lalu mengulurkan tangan. Seribu rupiah milikku segera berpindah ke tangannya.

"Makasih, Tuan, "bisiknya lirih, lalu kembali lagi berlari ke tempatnya semula berdiri, di muka terowongan, setelah lebih dulu memberiku setangkai mawar merah dari dalam keranjang yang dibawanya.

Aneh, mawar untuk apa?

"Harga mawar ini lebih mahal dari uang yang kuberi untukmu," kataku, turun dari mobil dan menghampirinya.

"Tak mengapa, doakan saja Bapak saya selamat," jawabnya datar, matanya tajam menyapu wajahku. Kutaksir usianya sekitar sepuluh tahun. Mantel merah usang yang dikenakannya tampak sedikit kebesaran di tubuhnya yang mungil.

"Bapakmu kenapa?"

"Mati."

Aku terlengak kaget, bukan semata-mata karena jawabannya, tapi lebih kepada ekspresi dingin gadis kecil itu saat mengucapkannya.

"Bapakmu meninggal kenapa?" tanyaku penasaran.

"Ditenggelamkan." Ia menunjuk ke arah danau di sebelah kanan jalan.

Aku kembali terlonjak. Ia tidak bilang tenggelam tapi 'ditenggelamkan'.

"Kapan?"

"Baru saja."

"Apaaa ...?!" Belum lama aku bersamanya tapi gadis ini sudah mengejutkanku berkali-kali.

"Di sebelah mana?! Siapa yang menenggelamkan?!" Aku berlari menuju tepi danau diikuti langkah kakinya yang kaku.

"Di sini?!" tanyaku lagi. Gadis itu mengangguk sekilas.

Aku berlari kembali mengambil senter dari dalam dashboard mobil, melepas mantel dan sepatu karet cepat-cepat, lalu setengah tergesa kumasuki danau. Rasa seperti dicucuki ribuan jarum langsung menyergapku.

Semoga belum terlambat.

Pikirku menggigil, menarik napas panjang bersiap menyelam.

Eeh ... apa itu?

Sudut mataku menangkap senyum ganjil di wajah gadis tadi. Selagi aku berpikir tentang arti senyumannya, satu hentakan kuat dari bawah permukaan air menarik kedua kakiku. Aku terseret masuk ke dalam air danau yang gelap dan beku.

Tangankah ini yang mencengkeramku?

Tanaman air liar membelit kaki serta tubuh. Berjuang aku membebaskan diri darinya mencoba mencapai permukaan. Kakiku menendang-nendang tak terkendali.

"Tolooonnggg ...!" teriakku lemah saat kepalaku muncul di permukaan, tanganku menggapai-gapai udara.

Haap!

Satu tangan kokoh menarikku.

"Uhuuk ... uhuukk!" Muntahan air keluar dari mulut serta hidung. Seseorang tadi telah menyeretku ke daratan. Ia pun tersengal-sengal di sebelahku.

"Gadis kecil tadi, mana?" tanyaku segera begitu telah menguasai napas.

"Tak ada gadis kecil, Tuan." Laki-laki muda itu menatapku aneh.

"Tadi dia di sini!"

"Tak ada seorang pun, Tuan. Hanya Anda. Saya melihat Anda tadi hendak bunuh diri."

"Bunuh diri?!"

Kuedarkan pandang ke seluruh penjuru mencari sosok gadis kecil tadi, hingga mataku tertumbuk pada benda yang teronggok tak jauh dari tanganku.

Mawar merah ....

Aku pun menggigil.

~TAMAT~

Sumber gambar: Mbah Gugel

Senin, 08 Februari 2016

FANFICTION - JEMBATAN LANGIT

"Jangan sampai kau melihat ke bawah saat nanti kita melewati Hutan Api, Zou!"

"Memang rumor itu benar, ya? Aku sih sangsi, masak cuma lihat bisa terbakar."

"Jaga mulutmu, itu memang benar! Dengan melihat lautan apinya saja matamu akan membara, dan api akan membakar seluruh tubuhmu!"

"Hiii ... ngeri."

Zou bergidik, menangkupkan kedua tangan ke pipi kanan dan kiri, tapi seringai ketakutan itu jelas sekali pura-pura.

"Zou, aku tidak bercanda!" teriakku marah.

"Oke ... oke, maaf," Zou masih cengengesan, "habisnya kau serius sekali, sih. Hmm, akan aku ingat baik-baik. Jangan menoleh ke bawah. Iya, kan?"

Aku mengangguk. Walau Zou tadi bercanda, tapi sekilas kulihat kejerian terpancar di matanya. Mungkin dalam hati ia pun diliputi ketakutan sama sepertiku.

"Ayo, bersiap," ajak Zou gagah. Melipat pedang mutiaranya jadi tiga, dan diselipkan pada saku lengan sebelah kiri baju zirahnya. Ia dengan mantap lalu memanjat ke atas tubuhku.

"Huum ... Zou?"

"Yaaa?"

"Kita kan akan terbang naik itu." Aku menunjuk benda yang terparkir tak jauh dari kami, "kenapa kamu nemplok ke aku kayak gini?"

"Uups, maaf." Zou melompat turun dari punggungku sambil tertawa-tawa. Dasar gadis aneh!

"Seingat aku setiap satria punya hewan tunggangan, biasanya naga. Tadi aku sempat mengkhayal, kau seperti itu." Zou kembali cekikikan sampai terbungkuk-bungkuk.

"Tapi aku ini sahabatmu, dan aku bukan hewan!" ketusku. "Aku ini Myrthia, kau pun bukan satria seperti harapanmu."

"Walaupun kau makhluk mitologi, apa pun namanya, tetap saja kau itu sejenis hewan di sini. Sudah akui saja, tak usah gengsi."

Aku mendengus kesal. Zou memang paling senang meledekku dengan hal itu. Menurutnya kalau di negeri Zenith, aku ini perpaduan dari kambing, penyu, dan elang. Kulit punggungku sekeras penyu, tapi kepala, ekor, dan keempat kakiku seperti kambing. Selain itu aku mempunyai sayap seperti elang, tapi aku tidak bisa terbang. Sayap ini untuk menambah kemampuanku dalam berlari. Ya, kekuatanku memang pada kecepatan kaki-kakiku hingga Zou menjulukiku Si Kaki Angin.

"Erb ...."

"Heemm!" dengusku, masih kesal.

"Apa menurutmu, karena aku anak perempuan, aku tidak pantas jadi satria?"

Zou mengerling padaku sambil menaikkan sepasang alis coklatnya yang indah, meminta pendapat.

"Rambut gimbalmu sudah cocok kok, untuk seorang satria," dengusku lagi, berniat membalas ledekannya.

"Erb!" Zou membeliakkan mata hijau besarnya ke arahku jengkel.

"Kalau tidak pantas, mana mungkin King Andrews menitahkan kau menyelamatkan putranya. Iya kan?" jawabku akhirnya.

Perlahan tapi pasti senyum Zou mengembang, memperlihatkan sepasang lesung pipinya.

"Kalau begitu, ayo berangkat!"

Zou mendahuluiku berjalan ke arah benda aneh di depan kami. Bentuknya seperti gelombang air, transparan, dan selebar tubuh tiga orang dewasa. Entah apakah benda ini benar-benar bisa terbang?

***

"Dasar pengecut! Bebaskan aku dari sini, kita bertarung secara jantan!"

"Hihihi ... aku kan peri, Prince Chess, masak secara jantan, sih?" Peri Langit tertawa-tawa sambil terbang berputar mengelilingi Prince Chess.

Pangeran berambut ikal keemasan itu menggigit bibirnya kesal, mata birunya berkaca-kaca. Sedikit lagi pasti bendungan akan jebol dan membludak dari matanya.

Sebenarnya Peri Langit tidak mengurungnya, hanya menempatkan di atas sebuah jembatan tak berujung, di ketinggian yang tak diketahui. Sekelilingnya hanya penuh dengan arak-arakan awan yang membuatnya yakin, ia berada di tempat yang tinggi sekali.

"Kenapa kau menculikku?!"

Suara Prince Chess mulai lemah, ia sudah lama berteriak-teriak sejak tadi. Posisinya masih sama sejak semula, bersimpuh di jembatan sambil jari jemarinya mencekal tali jembatan dengan erat. Ia memang takut ketinggian.

"Ayahmu itu perlu diberi pelajaran. Ia mengenakan pajak pada Jembatan Langit milikku yang melintasi kerajaannya, padahal jembatan ini kubangun untuk memudahkan perjalanan para Pertapa Sunyi menuju Puncak Amerta, tempat mereka untuk moksa."

"Tapi aku tidak tahu apa-apa!" jerit Prince Chess, lalu begitu saja bergulir kristal bening dari sepasang matanya.

"Ckckck, Prince Chess, kau itu laki-laki, apa tidak malu menangis?"

Peri Langit mengibaskan jubah keemasannya, ujung jubah itu seketika menghapus air mata pangeran.

"Aku tidak suka laki-laki yang menangis," katanya lagi.

"Dasar peri jahat! Tunggu sampai pengawalku datang!"

"Ooh, aku ketakutan," ejek Peri Langit.

"Kau belum kenal Zou, dia bisa menghabisimu dengan sekali pukul!"

"Oh ya? Mana dia kalau begitu, biar kujebloskan ke Hutan Api!"

"Aku di sini!"

Tiba-tiba diiringi dengan suara deru air, berkelebat cahaya keperakan menebas ujung rambut Peri Langit.

"Aaahh ...!" Peri Langit terkejut.

"Horeee, itu Zou pengawalku datang. Biar rasa kamu, peri jahat!"

Prince Chess bertepuk tangan kesenangan, lupa untuk berpegangan. Bibirnya menjulur ke arah Peri Langit.

Plaakk!

Satu tamparan mendarat di pipi Prince Chess. Peri Langit telah melayang turun, sambil sebelah tangan memegang kepala yang kini telah kehilangan sanggul besarnya.

"Kau akan rasakan akibatnya untuk ini!" teriak Peri Langit, mencengkeram kerah baju Prince Chess.

Wuuss!

Aku berlari ke arah Prince Chess sebelum Peri Langit berhasil menjangkaunya, menariknya cepat ke arah punggungku.

"Aaahh, hewan apa kau ini?!"

Peri Langit ternganga di depanku. Dari raut wajahnya sepertinya ia terkejut.

"Minggir, Erb." Zou menepuk pundakku. Aku pun berbalik dan kembali berlari cepat ke sisi jembatan yang lebih aman.

"Jangan kencang-kencang, Erb, aku takut!"

Aku mendengus pelan lalu melambatkan lariku. Kalau saja bukan untuk Zou, malas rasanya membantu menyelamatkan pangeran gemulai ini. Ya, itu julukanku untuknya. Gemulai!

"Lihat yang telah kau lakukan pada rambutku! Rasakan ini!"

Kulihat dari kejauhan perempuan alis bercabang itu berputar cepat, tubuhnya kini serupa pusaran angin. Zou menyilangkan pedang permata di depan dadanya. Aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya, tapi kuharap ia bisa mengatasi perempuan aneh itu.

"Erb, aku takut. Apa Zou bisa melawan Peri Langit?"

Aku mendengus, malas menjawab Prince Chess yang kini memeluk leherku erat. Dalam hati aku berdoa, semoga ia tidak ngompol di punggungku.

"Aku sudah siap sedari tadi, Nyonya botak!" Dari kejauhan kudengar teriakan Zou yang bernada mengejek.

"Bersiaplah anak kecil! Rasakan pembalasanku!"

Kulihat Zou memutar pedangnya di atas kepala, cahaya keperakan langsung menyelubungi tubuhnya. Pusaran angin keemasan milik Peri Langit, cahaya keperakan dari tabir pedang Zou, berbenturan beberapa kali. Kilatan cahaya serta teriakan -teriakan silih berganti memenuhi udara.

Lalu di satu titik tiba-tiba kedua cahaya tadi kembali saling beradu hingga mengeluarkan suara ledakan.

Taaarrtt!

"Zou!" teriakku keras, berlari secepat kilat menuju ke arahnya terjatuh.

"Zou, bangun Zou!"

Prince Chess turun dari punggungku, menepuk-nepuk pipi Zou. Tampak sudut bibir sahabatku itu mengeluarkan darah.

"Erb ...."

"Astaga Zou, kau membuatku ketakutan!" teriakku gembira saat Zou membuka matanya perlahan.

"Siapa yang menang?" tanyanya lemah.

Aku mencari-cari sosok Peri Langit, tapi hanya seonggok jubah hangus yang kutemukan.

"Kau yang menang, Satria Zou!"

Aku tersenyum bangga padanya. Zou membalas senyumku, sedangkan Prince Chess, oh astaga, pangeran gemulai itu mulai menangis lagi.

Sumber Gambar: Mbah Gugel